Skip to main content

Posts

Leaving Indonesia

Selasa, 10 Januari 2017 Excited, sedih, khawatir, deg-degan semua perasaan bercampur. Masih belum percaya kalau hari ini itu tiba, setelah penantian bertahun-tahun, harapan yang gak pernah putus, usaha dan doa yang selalu dipanjatkan, akhirnya hari itu pun tiba. Saatnya mengemas segala perlengkapan, menutup dan mengunci koper. Maklum, malamnya masih ada beberapa teman dan kerabat yang tak hentinya menyempatkan datang kerumah hanya untuk bertemu dan memberikan kenang-kenangan untuk saya selama disana. Bahkan, yang satu ini juga gak pernah nyangka, sebegininya diberi perhatian oleh teman-teman, kerabat, dan keluarga. Selama seminggu sebelum hari keberangkatan, hampir setiap hari selalu menerima ajakan untuk bertemu dengan teman kuliah hingga teman sekolah dulu, mereka bahkan gak hanya memberikan sedikit waktunya tapi juga hadiah kecil sebagai kenang-kenangan untuk saya di negeri orang kelak, super cute  dan touchable karena sebagian dari hadiah tersebut selalu terselip surat yang i...

Tidak Terlihat tapi Terasa...

Dewasa ini, banyak orang di usia akhir masa remaja hingga pertengahan 30 tahunan mengalami gangguan panik. Awalnya dianggap sepele, namun ternyata bisa berdampak negatif untuk pengembangan diri dan interaksi dengan orang disekitarnya, Ternyata, peremuan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengembangkan gangguan panik ini. Gangguan panik ini tidak hanya sekedar gangguan yang sifatnya temporer, tapi bisa jadi permanen apabila tidak disembuhkan. Gangguan panik ini dalam medical terms dikenal sebagai Anxiety Disorder.  \ Salah satu blog yang saya baca, menyebutkan bahwa salah satu gejala terbesar dari penyakit psikis ini adalah rasa takut yang persisten akan adanya serangan berikutnya, atau rasa cemas (misalnya, takut kehilangan akal atau menjadi gila, terkena serangan jantung, bahkan takut mati). Salah satu dampak buruk lainnya adalah, penderita takut berada di keramaian dan lebih cenderung memilih di rumah, sebisa mungkin menghindari mobilitas di luar rumah karena t...

Satu lagi Mimpi..

Rabu, 9 September 2015  jadi salah satu hari bersejarah untuk beberapa mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), tapi tidak untuk saya. Ya, hari kelulusan pun tiba. Setelah empat tahun menjadi mahasiswa, melewati fase yang menurut orang-orang adalah gerbang penentu kesuksesan di masa depan, akhirnya semua berakhir, tapi lagi-lagi tidak untuk saya. Sejak pertama kali memasuki bangku kuliah, wisuda bukan jadi sesuatu yang penting bagi saya, hanya sebatas ceremonial. Tapi, hari itu saya sadar mengapa orang-orang begitu menunggu momen ini. Wisuda, mungkin bukan apa-apa, tapi jadi hadiah spesial untuk keluarga dan sahabat terdekat. Euphoria nya terasa lebih mendalam ketika dihadiri dan disaksikan oleh mereka, yang rela menyempatkan waktu untuk melihat kita sesekali berbusana rapi, mengenakan toga, dan bahkan memberikan buket bunga dan boneka sebagai kenang-kenangan. Disaat semua orang menikmati kebahagiaan itu, ada rasa takut yang semakin besar menghantui pikiran saya. Rasa takut ...